Minggu, 21 Juli 2013

Quotes

"You never know how strong you are,until being strong is the only choice you have"

Selasa, 19 Maret 2013

bullshit

People says that inner beauty is more important than outer beauty. But, in the siciety we live in,it isn't. No one give you the chance to show than you're beautiful on the inside if you aren't on the outside!
#hellyeah

Jumat, 18 Januari 2013

Air dan api

Sekarang ituu
entah bisa disebut dengan apa. Kata.kata yang tepat buat menggambarkan situasi yang sekarang lg terjadi. saya tidak suka denga situasi ini tapi tidak tau harus bagaimana lagi.
Yaaa,cerita ini tentang saya dan dia (nyokap). Menurut saya, kami itu sudah terlalu jauh dan sulit menyatu. seperti judul post ini "Air dan api".kedua elemen alam yang sulit disatukan,kecuali di dragon city. *lol
Hubungan yang terjadi diantara saya dan dia itu ya hubungan antara anak dan ibu yang tidak akur. Kepala kami sulit disatukan. Banyak pemahaman saya dan dia yang tidak sejalan. Entah dalam hal apapun itu. Bahkan untuk beberapa situasi dalam hal "baju", plisss saya benci kalau harus bertengkar hanya karna masalah baju yang sepele. Saya suka mengenakan baju seperti yang ssering kenakan, saya benci kalau harus dipermasalahkan dengan alasan "kamu itu aneh,dikasih tau yang bagus gamau dipake.kaya mama dong tau matchingin baju". Mungkin itu hanya bagian kecil dari ke-tertolakbelakangan saya dan dia. Ada hal lain yang sering menjadi bahan "keributan" diantara saya dan dia dan itu membuat sangat tidak nyaman berada dirumahh. Tapi toh mau bagaimana lagi saya masi nadahin tangan ke dia.
Mencoba mencari alasan kenapa itu bisa terjadi.sayapun terkadang masih ragu entah alasan apa yang sesungguhnya. Tapi semakin sering saya bertanya pada diri sendiri semakin sulit menemukan jawaban itu.
Seringkali meskipun saya ataupun dia mencoba akur,hanya berujung pada "berantem-ribut". Ya,saya dan dia kalo ada berdekatan mungkin "berantemable".
Yang saya rasakan seringkali rasa benci,kesel,marah,kecewa,sedih atau rasa apalagi itu. dan mungkin rasa itu yang membuat saya susah membuka diri untuk dia,walaupun seharusnya hubungan kami harus harmonis,ya seharusnya tapi tidak kenyataannya.
Saya benci kenapa saya harus merasa seperti ini,saya kesal kenapa saya tidak bisa akur seperti anak.anak lain dengan ibunya,saya kecewa kenapa "mereka" menghancurkan hidup saya, saya sedih karna tau kalo akhirnya saya tidak  bisa membuka diri saya terhadap ibu saya sendiri.....
 Bagaimanapun,itu terjadi begitu saja. Rasa itu lahir sejak dia mulai meninggalkan saya di waktu dulu. Dia sendiri yang membuat saya terbiasa untuk tanpa dia. Meskipun terkadang saya sangat merndukan dia,meskipun terkadang saya rindu pelukannya-pelukan seorang ibu. Rasa itu tumbuh dan berkembang sampai sekarang.
 Anda sendiri yang membuat saya harus terbiasa tanpa anda, yang membuat saya harus menahan apa yang saya rasakan,yang membuat saya jauh dari anda,yang membuat saya lupa bahwa sebenrnya sosok ibu bisa saja jadi sahabat untuk anak perempuan. Kemana anda saat saya sangat membutuhkan anda untuk mendengarkan setiap kisah saya disekolah? Kemana anda saat orang tua lain mengambilkan rapot buat anaknya? kemana anda saat saya bahagia mendapat peringkat 1 ujian sekolah? kemana anda saat saya harus di dropout dari sekolah yang saya suka? kemana anda saat saya merasa terpojokan dalam lingkungan orang.orang yang menekan saya? kemana anda saat saya tidak dapat menemukan tempat untuk mengadu? kemanakah kalian berdua saat saya harus melihat anak.anak lain menghabiskan waktunya bersama kedua orang tua mereka? :-)
Bisakah anda tidak membanding.bandingkan saya dengan mereka yang lain,yang punya kelebihan banyak daripada saya? bisakah anda tidak menuduh saya melakukan kesalahan yang tidak saya lakukan?. dan masih banyak bisakah lainnya.....
saya benci harus berbicara kasar dan bertindak seperti yang saya lakukan saat sekarang ini,tapi saya tidak tau lagi bagaimana cara menahan semuanya. saya tidak tau bagaimana cara mengungkapan perasaan saya yang sebenarnya.Saya sayang anda tapi rasa yang lain sudah lebih terlatih sejak lama untuk menutup diri saya terhadap anda. Jadi maav kalo saya bersikap seperti ini.
Seandainya anda baca ini,dan seandainya anda tau rasanya bersikap seperti ini...
sincerly,

your bad girl.... </3

Minggu, 06 Januari 2013

Bidadari untuk papa


“Ini tante Lia, calon mama baru kamu.”
Terngiang kembali kata-kata papa di telingaku. Calon mama baru? Nggak salah tuh? Belum genap satu tahun mama meninggal, papa sudah berani membawa perempuan dua puluh tujuh tahun itu dan mengenalkannya padaku sebagai calon mama baruku! Satu lagi, papa yang berusia empat puluh dua tahun akan menikahi wanita yang baru berusia dua puluh tujuh tahun?
Tidaaaaak!
Aku mengambil foto mama yang ada di meja belajarku. Kupandangi wajah mamaku lekat-lekat. Mama cantik sekali. Beliau adalah prototype wanita yang diinginkan lelaki jaman sekarang. Sabar dan keibuan. Mama juga mengerti dengan kondisi papa yang saat itu sedang terpuruk karena masalah ekonomi dengan mau menikahinya tanpa syarat.
“Ma… papa jahat,” kataku. Kurasakan pandanganku mengabur. Papa sangat mencintai mama sampai perempuan itu datang dan mengisi hati papa. Aku yakin mama sangat sedih di alam sana karena papa dengan mudahnya melupakan mama. “Ma… apa mungkin papa lupa ya, dengan pengorbanan mama selama ini? Apa Aden yang harus mengingatkan papa, Ma?” tanyaku sambil terus mengusap wajah mama di foto.
Terlintas kembali bayangan mama yang selama tiga tahun berjuang melawan kanker ganas di tubuhnya. Papa selalu ada di sisi mama sampai akhirnya mama menghembuskan nafas terakhirnya. Begitu indah kisah cinta antara papa dan mama dan sekarang wanita iblis itu datang untuk menghancurkan semuanya!
Pintu diketuk. Tante Lia masuk. “Makan dulu yuk. Tante masak tempe kecap kesukaanmu,” kata tante Lia sambil berdiri di pintu. Aku cepat-cepat mengusap air mataku dan tersenyum pada tante Lia. Aku selalu bersikap sopan di hadapannya. Aku tidak ingin mama marah karena aku mengabaikan sopan santun yang selalu diterapkan oleh beliau.
“Aden belum lapar, Tante. Nanti aja,” jawabku. Tante Lia tersenyum. “Ya udah. Tante makan dulu sama mas Burhan. Tante tunggu dibawah ya,” kata tante Lia. Aku beringsut menyalakan laptopku dan membiarkan musik rock mengisi ruang kamarku dengan volume sedang. Dalam kondisi seperti ini aku tidak ingin menyalakan musik slow yang membuatku semakin mellow. Seperti biasa, kuambil stik drum dari laci belajarku dan mulai memukul-mukulkannya di udara. Aku bisa memainkannya meskipun belum menjadi pemain profesional. Tinggal pukul ini, pukul itu, sesuaikan iramanya, dan…
“Nak…”
Aku menoleh. Papa sudah berdiri di depan pintu. Di sampingnya berdiri tante Lia yang bergelayut manja di lengan kekar papa. Ada sesuatu yang kurasakan meletup di dalam tubuhku. “Ayo kita makan,” ajak papa sambil tersenyum. Aku langsung menggeleng.
“Tante Lia udah bilang kan, kalo Aden belum laper,” jawabku sewot. Papa mengangguk. “Iya, tapi papa takut magh kamu kambuh kalau kamu telat makan,” lanjut papa. Papa adalah seorang internis atau dokter spesialis penyakit dalam. Beliau tahu betul semua penyakit yang pernah kuderita.
“Nggak. Nanti aja. Lagian obat yang kemaren masih,” kataku sambil menunjuk setumpuk obat di lemari kaca dengan daguku. Papa mengalah. Beliau kembali ke meja makan sedangkan aku bangkit untuk menutup pintu dan menguncinya agar tidak seorangpun bisa masuk ke kamarku, termasuk papa. Aku membenci papa sejak beliau membawa wanita itu ke rumah. Mudah sekali papa lupa dengan mama yang sudah sepuluh tahun mendampinginya. Mudah sekali papa membuka hatinya untuk wanita lain! Aku benci papa!
Sesuatu dalam tubuhku kembali kurasakan meletup.
#
“Muka lo kusut banget,” sapa Ilyas, teman sebangkuku. Aku meletakkan tasku di meja dan duduk di sampingnya.
“Biasa, masalah pribadi,” jawabku enteng sambil mengambil tempat makan di tasku. Pagi ini aku tidak sempat-lebih tepatnya malas-makan pagi karena tante Lia ikut duduk di meja makan. Di samping papa lagi.
“Kayaknya lo harus berdamai sama perasaan lo deh. Nggak mungkin kan, lo terus-terusan perang sama bokap lo,” kata Ilyas sambil menggigit roti di tangannya. Aku tersenyum dan menggigit rotiku. “Sebelum tante Lia keluar dari kehidupan gue, gue nggak akan berhenti perang sama papa,” jawabku.
“Lo udah nyoba ngomong sama bokap lo?” Tanya Ilyas. Aku menggeleng. “Lo harus ngomong, Den. Ngomong baik-baik dan bilang ke bokap lo kalo lo sulit menerima perempuan lain pengganti nyokap di hidup lo. Gue akan selalu dukung lo selama itu positif,” sambungnya.
“Thanks ya, Yas. Lo sahabat gue yang paling baik,” kataku sambil memandang matanya. Mata elang yang dulu pernah membuatku merasakan cinta pertama namun tanpa balas.
Pulang sekolah, sebuah Toyota Fortuner berwarna hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Mobil papa. Aku tersenyum senang saat melihat papa yang masih berseragam praktek turun dari mobil dan menghampiriku.
“Papa ngapain jemput sih? Aden kan udah gede,” kataku sambil bergelayut manja di lengan papa. Papa tertawa. “Memangnya, kelas tiga SMP sudah gede, ya?” kata papa sambil mencubit hidungku. Aku tertawa. Papa ikut tertawa dan membuka pintu belakang mobil. “Kok di belakang, sih, Pa? Biasanya kan Aden duduk di depan,” tanyaku heran. Wajah papa tampak menyembunyikan sesuatu.
“Surprise!!”
Terdengar suara khas seseorang saat aku membuka pintu depan mobil. Tante Lia tersenyum manis ke arahku. Aku menatap papa yang berdiri di sampingku dengan pandangan tidak percaya. Untuk apa papa membawa perempuan ini! Sekonyong-konyong aku membanting pintu mobil dan berteriak pada papa, “Aden benci sama Papa!”
Tepat pada saat itu terdengar deru motor Ilyas. Aku segera berlari menyongsongnya. “Anterin gue pulang. Sekarang,” kataku sambil duduk di boncengan motor. Ilyas tampak tidak mengerti. “Jalan Yas!” bentakku. Ilyas segera menjalankan motornya dan mengangguk kea rah papa. Air mataku menetes saat itu.
“Lo kenapa sih?” kata Ilyas saat kami melintas di jalan Ganesha. Aku mengusap air mataku. “Gue nggak bisa liat perempuan itu deket sama papa!” jawabku sedikit membentak. Ilyas mendesah. “Tapi caranya nggak seperti itu, Aden,” katanya.
“Biarin. Papa gue pantes dapet perlakuan seperti itu,” jawabku sekenanya.
“Lo nggak ngerti kan, gimana perasaan bokap lo tadi?” tanya Ilyas. Aku kembali mengusap air mataku. “Bodo amat! Emang gue pikirin! Papa juga nggak mikirin perasaan gue!” sahutku ketus. Ilyas meminggirkan motornya dan menyuruhku turun.
“Den,” katanya sambil memegang kedua pundakku. “Liat gue. Lo nggak boleh bersikap seperti itu sama bokap lo. Apa yang bokap lo lakukan semua buat kebaikan lo. Mencari pendamping hidup itu bukan hal yang mudah, Den. Bokap lo pasti udah mikir seribu kali untuk melakukannya. Apalagi beliau punya almarhum nyokap lo yang sangat beliau cintai. Bokap lo punya tanggung jawab besar untuk mendidik lo, dan itu akan terasa sangat sulit tanpa pendamping hidup. Lo nggak boleh egois, Den. Pikirin juga perasaan bokap lo,” kata Ilyas panjang lebar.
Aku terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba meleleh di dalam tubuhku. Perasaanku campur aduk, apalagi saat melihat mata Ilyas memerah.
“Tolong, jangan lakukan ini ke bokap lo, Den. Atau lo bakalan menyesal selamanya setelah lo nggak sempat minta maaf sama beliau,” kata Ilyas sambil memalingkan muka. Aku menatap Ilyas.
“Maksud lo apa, Yas?” tanyaku heran. Ilyas mendesah dan berbalik menatapku. “Gue pernah memperlakukan ayah seperti itu karena beliau menikahi mama Irma setelah tiga bulan kematian bunda. Gue nggak terima dan terus menjauh dari ayah sampai insiden penembakan itu terjadi. Ayah tertembak saat menjadi pasukan khusus di Maumere. Gue belum sempat minta maaf ke ayah atas semua sikap gue selama ini,” jawab Ilyas. Matanya basah.
“Yas… Maaf.Gue nggak bermaksud…”
“Gue anter lo pulang sekarang,” kata Ilyas sambil menyalakan mesin motornya kembali. Aku menurut. Kami sedang melewati jalan Mataram saat tubuhku tiba-tiba meleleh.
“Mas! Mas!”
“Mas! Berhenti Mas!”
Ilyas menghentikan motornya dan menoleh ke belakang karena merasa panggilan itu ditujukan untuknya. Betapa terkejutnya dia saat melihatku sudah tidak ada di boncengannya. Ilyas makin terkejut saat melihatku tergeletak di jalan dan dikerubungi oleh banyak orang. Ilyas berlari dan mengangkat kepalaku. Beberapa orang berusaha menyetop mobil yang kebetulan melintas. Sebuah Toyota Fortuner berwarna hitam berhenti di depan kerumunan itu dan membawaku ke rumah sakit.
#
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Bau alkohol dan obat menyeruak seketika. Tak lama kemudian terdengar beberapa langkah kaki yang semakin mendekat. Papa dan seorang suster datang. “Nak, kamu sudah sadar,” kata papa sambil mengelus kepalaku. Dari raut wajahnya aku tahu papa sangat khawatir.
“Sebenarnya sudah berapa hari kamu demam, Nak?” Tanya papa sambil menatapku. Aku mencoba mengingat-ingat. Beberapa hari ini memang suhu tubuhku naik saat malam hari, namun tidak pernah kupedulikan. Aku menatap papa dan menggeleng. Tak lama kemudian seorang suster datang dengan membawa selembar kertas dan memberikannya pada papa.
“Benar dugaan papa. Kamu kena tifus,” kata papa sambil tetap serius dengan lembaran kertas di tangannya. Hasil cek darahku. Aku mendesah dan memperhatikan infus yang telah tertancap di tangan kiriku.
“Kamu harus dirawat, Sayang. Kondisimu harus dipantau,” lanjut papa. Aku tidak mengatakan apapun pada papa sampai aku dipindahkan dari UGD menuju ruang rawat. Papa terus berada di sampingku dan menanyakan bagian tubuh mana yang sakit, namun selalu kujawab dengan gelengan.
Hari kedua, di Rumah sakit…
“Aku harus praktek,” kata papa pada tante Lia setelah aku selesai minum obat dan mulai tertidur. Tante Lia mengangguk. Papa mendesah. “Aku merasa bersalah pada Marsih karena membiarkan Aden sakit seperti ini,” lanjut papa. Aku yang belum sempurna tertidur masih bisa mendengar percakapan mereka.
“Mbak Marsih di alam sana pasti mengerti, Mas, kalau kamu telah melakukan yang terbaik untuk Aden,” kata tante Lia. Aku merasakan tangan papa meraba dahiku.
“Aku sangat sayang padanya. Aku selalu melakukan yang terbaik untuknya. Tapi mengapa keputusanku untuk memberinya mama baru ditentang habis-habisan olehnya? Aku hanya ingin dia mendapat curahan kasih sayang seorang ibu,” kata papa. Aku terdiam, berusaha mencerna perkataan papa.
“Dia selalu bersikap dingin padaku. Mungkin dia pikir aku dapat dengan mudah melupakan mamanya. Padahal tidak sama sekali. Marsih adalah wanita yang paling kucintai seumur hidupku,” lanjut papa.
“Mungkin Aden belum siap, Mas. Aku yakin, suatu saat nanti dia pasti bisa menerimaku menjadi mama barunya. Aku bisa mengerti semuanya,” kata tante Lia. Terdengar suara desahan papa yang berat.
“Marsih meninggalkanku terlalu cepat. Mendidik anak tanpanya adalah hal tersulit yang harus kujalani,” kata papa.
Aku tercenung. Benar apa kata Ilyas. Selama ini aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa sedikitpun memikirkan papa. Mendadak ada sesuatu yang hilang saat aku menyadarinya…
#
Hari kelima, RS Sardjito, Yogyakarta…
“Selamat pagi, anak papa yang cantik,” sapa papa saat visit pagi. Aku tersenyum melihat papa berdiri di sampingku. Beliau duduk di ranjangku dan meminta suster untuk keluar. “Ada yang ingin papa bicarakan sama kamu, Nak,” kata papa sambil menatap mataku.
“Hari ini tepat satu tahun mamamu meninggal,” kata papa. Aku kembali mengangguk. Semalam, tepat pukul 00.00 ponselku juga berdering. Alarm ulang tahun papa.
“Saat itu mamamu tengah bergulat dengan maut di ruang operasi. Papa dan dokter Adnan yang mengoperasi mamamu. Pada awalnya kami tidak mengalami kesulitan sampai mamamu mengalami pendarahan hebat setelah usus besarnya diangkat sepanjang delapan sentimeter. Semua usaha yang kami lakukan sia-sia sampai dokter Adnan mengumumkan bahwa mama sudah tidak dapat tertolong lagi. Papa merasa sangat bersalah karena tidak sanggup menyelamatkan mamamu,” kata papa sambil menarik nafas panjang. Matanya berkaca-kaca.
“Papa semakin merasa bersalah saat melihatmu menangis setelah dokter Adnan memberitahu kabar kematian mama padamu. Sejak saat itu papa berusaha untuk menjadi papa sekaligus mama yang baik untukmu, meskipun luar biasa sulitnya. Beberapa bulan kemudian papa bertemu dengan tante Lia. Awalnya tante Lia hanyalah pasien papa yang menderita kanker. Setelah diteliti lebih lanjut, betapa kagetnya papa saat mengetahui bahwa kanker yang diidap tante Lia adalah kanker usus besar, penyakit yang sama yang mengambil nyawa mamamu beberapa waktu lalu,” kata papa.
“Papa ingin menebus kesalahan papa di waktu lalu, Nak. Papa harus menyelamatkan tante Lia. Dengan begitu papa tidak merasa bersalah lagi padamu dan almarhum mamamu. Papa tidak sanggup jika harus merasa bersalah seumur hidup papa. Papa tidak sanggup jika setiap memandang matamu, bayangan hari kematian almarhum mama selalu muncul. Papa minta ijin padamu, Nak,” kata papa sambil menggenggam kedua tanganku. “Ijinkan papa menebus kesalahan papa ini.”
Aku menatap kedua mata papa yang mulai memerah basah. Tampak sekali ada sebuah kehilangan yang sangat besar di mata papa, sama besarnya dengan rasa bersalah yang kurasakan. Pandanganku mengabur berkat air mata.
“Maafkan Aden, Pa,” kataku sambil memeluk papa dengan erat. Tidak kupedulikan selang infus yang mulai berwarna merah karena darah dari lenganku naik. Papa balas memelukku tidak kalah eratnya.
“Papa juga minta maaf, Sayang. Seharusnya papa menceritakan semuanya lebih awal. Dengan begitu, mungkin kamu akan lebih mudah menerima kehadiran tante Lia,” kata papa dengan suara parau.
“Happy birthday, Dad,” kataku sambil melepas pelukan papa. Kupegang kedua pipi papa dan kuciumi satu persatu. Papa balas mencium hidung dan dahiku, kemudian menghapus air mataku.
“Papa nggak akan membiarkan air mata jatuh lagi dari mata Marsih yang indah ini. Thank you so much, Sweet heart,” kata papa sambil menatap mataku. Aku tersenyum. Satu-satunya bagian tubuhku yang mirip dengan mama adalah mataku. Papa kembali mencium keningku.
“Tapi papa harus janji. Papa akan menjadi papa yang paling baik buat Aden, dan suami yang paling baik buat tante Lia,” kataku. Papa mengangguk-angguk dan memelukku lagi. “Terimakasih, Sayang. Kamu memang anak papa yang paling hebat,” kata papa. Aku tersenyum.
“Memangnya siapa lagi anak papa kalau bukan Aden? Ups, salah. Sebentar lagi Aden akan punya adik. Adik dari tante Lia,” kataku sambil menggoda papa. Papa tersenyum geli bercampur senang.
“Jadi kamu merestui papa menikah dengan tante Lia?” Tanya papa. Aku mengangguk dan tersenyum senang. “Tapi ada syaratnya,” sahutku. Dahi papa berkerut.
“Aden yang akan mengurus tema pernikahan papa nanti. Aden yang pilih baju pengantinnya. Aden yang pilih mas kawinnya. Semuanya Aden yang atur!” kataku bersemangat. Papa hanya mengangguk-angguk pasrah mendengar celotehan sang puteri. Aku tersenyum puas. Tiba-tiba papa memegang tangan kiriku. Tampak infus di tanganku rusak dan mengeluarkan darah karena aku terlalu banyak bergerak. Papa langsung memencet tombol untuk memanggil suster sedangkan aku tertawa geli melihat beliau yang tiba-tiba berubah menjadi super cerewet seperti almarhum mama saat memberikan instruksi pada mereka.
Ah, seorang bidadari menjadi kado terindah untuk hari jadi papa yang ke empat puluh tiga!

Kamis, 03 Januari 2013

THOUSAND YEARS

Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer

[Chorus:]

I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more

Time stands still

Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer

[Chorus:]

I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more

And all along I believed I would find you

Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more

One step closer

One step closer

[Chorus:]

I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more

And all along I believed I would find you

Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more

CRUSHER

Hai kamu yang selalu bisa buat aku tersenyum..
Demi apapun sama sekali gada niat aku buat ngerusak liburan kamu. Kalau tau akan jadi begini akhirnya. Aku ga kepikiran sama sekali. Maav kalo gara.gara aku liburan kamu jadi ada yang ngegantung. Aku ga kepikiran kalo ternyata aku nyita waktu kamu buat kumpul sama keluarga. Ya mungkin buat kamu aku memang egois. Aku cuma mikirin kesenengan aku. Tapi lebih dari itu aku cuma ngerasa nyaman sama kamu. adanya kamu yang nemenin aku buat aku ngerasa ga sepi. Dan jujur aku bingung gatau siapa lagi yang bisa buat aku ngerasa nyaman,senyaman saat aku ada sama kamu. Maav aku bawa kamu ke posisi yang ga ngenakin.
Maav kalo yang terjadi sekarang itu seperti simbiosis parasitisme buat kamu. jadinya aku cuma bisa jadi beban buat orang lain aja,termasuk kamu. Gada sama sekali maksud buat nahan kamu liburan sama keluarga. Andai kamu tau aku juga mau punya liburan sama keluarga sama kaya kamu.
Kamu tau,terkadang aku iri sama kelaurga yang kamu punya. Lengkap rasanya. Nyokap,bokap,adek,mbah,akung kamu,sodarasodara kamu,temen.temen kamu.....Aku pernah berkhayal punya semua itu. Dulu mungkin aku punya itu semua, tapi tidak untuk waktu yang lama.

Namun,sebesar apapun aku berharap punya itu semua aku gaperna ada niat ko buat ngambil waktu kamu sama mereka. Tapi sejujurnya aku cuma kesepian. Aku gatau siapa lagi yang bisa ngisi sepi itu selain kamu. Aku hanya tidak menemukan segelintir orang yang bisa buat aku nyaman,senyaman saat ada bersaama kamu.Ya,hanya itu ko...